| « Penting, EPPD Berbasiskan Masyarakat | Arah Pembangunan Lingkungan hidup Kota Blitar 2025 (Edisi Januari 2010) » |
Rabindaranath Tagore, seorang pujangga besar dari negeri India, pernah menyampaikan bahwa: Tuhan belum putus asa menghadapi manusia. Sebuah kalimat yang sepintas tidak bermakna, tetapi jika direnungi secara mendalam, akan menimbulkan goresan kepedihan di dalam hati. Bayangkan, dengan polah-tingkah dan perilaku manusia yang semakin modern semakin menunjukkan kearoganannya sebagai "penguasa bumi"; Sang Pencipta manusia, yaitu Tuhan, tidak memiliki keputusasaan untuk menghadapi polah-tingkah kita semua. Jangankan mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh-Nya, di dalam konteks kekinian, kita justru dapat melihat bagaimana banyak manusia di dunia ini yang merasa dirinya dapat bertindak seperti Tuhan, bahkan melebihi-Nya. Ironis! Tetapi, itulah kenyataannya. Tuhan tidak pernah, atau (mungkin memang) belum, putus asa melihat hasil ciptaan-Nya yang bernama manusia. Bahkan, manusia tetap dipercaya untuk menjadi "penguasa" bumi, sebuah noktah kecil di dalam belantara alam semesta yang menjadi wilayah kekuasaan-Nya. Jika Anda tidak percaya atas apa yang saya sampaikan di atas, mungkin Anda dapat melihatnya pada keseharian Anda. Anda dapat melihatnya di sekitar lingkungan Anda sendiri. Benarkah apa yang saya sampaikan di atas tadi? Atau, mungkin, itu hanya sekadar persepsi saya pribadi? Dan, jika mungkin, Anda menginginkan sebuah contoh nyata, hal ini mungkin dapat saya berikan. Betapa mudahnya manusia yang berkuasa saat ini menepikan keberadaan orang-orang yang sedang mengalami kesusahan di sekitarnya. Betapa mudah pula manusia-manusia yang sedang berkuasa itu melukai hati nurani kita dengan ketidakadilan terhadap sesama manusia yang mereka lakukan. Terlebih, jika daftar ini ditambah dengan bagaimana perilaku manusia, yang hanya memikirkan kepentingan mereka pribadi, termasuk di dalamnya kepentingan duniawi, mengobrak-abrik tatanan alam semesta. Perusakan lingkungan hidup, adalah contoh nyata akan itu, yang secara tidak langsung, dengan "kuasanya", manusia telah menciptakan azab bagi mereka sendiri. Mau diakui atau tidak, perilaku-perilaku seperti inilah yang menyebabkan seolah-olah manusia sudah melebihi Tuhannya. Padahal, secara hakikat, terciptanya manusia dan menjadi "penguasa" dunia ini adalah guna menjalankan kehendak-Nya. Ini yang tidak manusia-manusia yang berkuasa sadari. Mereka sebenarnya telah membuka kuburan mereka sendiri. Mereka sebenarnya telah menjadi korban atas ketamakan dan kekuasaan mereka sendiri. Mereka benar-benar melupakan hakikat mereka sebagai manusia. Jika melihat yang demikian, saya merasa patut mensyukuri di dalam hidup saya yang singkat di dunia ini masih menghirup udara Kota Blitar. Mengapa demikian? Sebab, di kota kecil ini, perilaku-perilaku yang "melebihi Tuhan" ini tidak terlihat. Dan, jika pun ada, yang melakukannya paling-paling hanya segelintir orang dan tidak memiliki pengaruh yang kuat di masyarakat. Manusia-manusia Kota Blitar, dengan kesadarannya yang tinggi, terus-menerus melakukan pembangunan yang mengarah pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan menjunjung tinggi keadilan. Tidak hanya kepada sesama manusia dan makhluk hidup, tetapi juga kepada alam semesta dan lingkungannya. Semoga saja hal ini terus berlangsung dan dilandasi oleh pemikiran yang tanpa pamrih. Ingat, bahwa hingga saat ini, apa yang disampaikan Rabindaranath Tagore: Tuhan belum putus asa menghadapi manusia, masih berlangsung. Sehingga, dapat dibayangkan, jika Tuhan telah putus asa di dalam menghadapi manusia. Kiamatkah? Hanya Tuhan yang tahu.