| « Kuncinya: Keberdayaan Masyarakat (Arah Pembangunan Pemberdayaan Masyarakat Kota Blitar 2025) | Menggali Pranata dan Sejarah Kota Blitar (1) » |
Tahun demi tahun yang berganti adalah tantangan dan tanggapan (challenge and respond) kita atas bergulirnya kehidupan ngeri dan bahaya (vivere pericoloso). Demikian pesan yang disampaikan Arnold Toynbee kepada seluruh umat manusia di dunia ini.
Jujur saja, baik jika kita menyimak dengan penuh perenungan maupun membaca sekilas, apa yang diungkapkan Arnold Toynbee ini membuat kita menjadi ngeri. Bergidik. Dan, bahkan, mungkin dapat mematahkan semangat kita untuk maju. Pesimis.
Tetapi, memang demikianlah realitanya. Tahun akan terus berganti dengan tahun (yang baru). Tantangan dan tanggapan yang mengikutinya juga akan semakin terjal. Kehidupan ngeri dan bahaya juga pasti akan terpampang dengan jelas, meski sebelumnya masih terlihat samar-samar.
Maka, beruntunglah kita diciptakan sebagai manusia, yang pada sisi lainnya juga harus disyukuri. Mengapa demikian? Sebab, lintasan sejarah telah membuktikan, manusia merupakan satu-satunya makhluk hidup yang dapat beradaptasi dan bertahan dari terpaan kengerian dan bahaya zaman.
Meski hewan dan tumbuhan, makhluk hidup lainnya, dapat dikatakan mampu beradaptasi dan bertahan pula, tetapi di dalam kenyataannya, baik hewan maupun tumbuhan mengalami evolusi dan revolusi yang teramat dahsyat dan secara perlahan memunculkan spesies baru. Kemunculan spesies baru inilah yang membuat hewan dan tumbuhan terlihat mampu beradaptasi dan bertahan, seiring-sejalan dengan manusia.
Kembali kepada manusia, yang meski mampu beradaptasi dan bertahan, juga menjadi subyek dari kengerian dan bahaya tersebut. Tidak hanya sekadar menjadi objek, seperti yang dialami hewan dan tumbuhan. Menjadikan manusia sebagai subyek dari kengerian dan bahaya itu, harus diyakini sebagai sesuatu yang tidak konstruktif, tetapi destruktif. Dan, berlindung di balik "topeng" kekodratan, serta alasan untuk bertahan hidup.
Lihat saja, hanya demi alasan bertahan hidup dan "topeng" kekodratan itu, manusia bertindak sewenang-wenang kepada alam semesta. Karena berlindung pada pemenuhan kebutuhan pokok: sandang, pangan dan papan, manusia, yang konon juga menjadi "penguasa" alam semesta dengan seenaknya mengubah tatanan alam semesta.
Akibatnya, hutan-hutan menjadi gundul; populasi tumbuh-tumbuhan semakin berkurang; dan hewan-hewan, yang sebenarnya tidak layak dikonsumsi dihabisi hak hidupnya hanya untuk mendapatkan seonggok daging, tulang, bahkan cula dan gadingnya, hanya untuk memenuhi kebutuhan kemewahan manusia.
Pada sisi lain, hanya segelintir orang yang memiliki kepedulian akan alam semesta ini. Mereka menyuburkan lagi lahan-lahan kering; menghijaukan hutan-hutan gundul; melakukan penangkaran hewan-hewan langka; menciptakan peternakan hewan untuk konsumsi manusia; dan tindakan mulia lainnya. Tetapi, sayang, sekali lagi, hal ini hanya dilakukan oleh segelintir orang.
Sedangkan, yang mayoritas, baru tersadar jika sudah terkena akibatnya. Dan, yang lebih parah lagi, sebagian dari mereka hanya berlindung di balik dalih bahwa ini merupakan kehendak Tuhan. Seolah-olah hanya Tuhan yang memunyai andil atas apa yang dialami oleh mereka.
Benar bahwa Tuhan mengendalikan kehidupan manusia, tetapi tanpa ada usaha manusia untuk bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya, kita hanya dapat menyerahkan "kesalahan" ini kepada Tuhan. Kehidupan manusia memang harus terus berjalan, tetapi jangan dilupakan pula bahwa tanpa adanya mestakung (alam semesta mendukung), manusia hanya menjadi "penguasa" di belantara yang kering-kerontang!