Diakui atau tidak, pembangunan bidang perhubungan di Kota Blitar amat mengandalkan sektor transportasi. Dan, untuk mewujudkan kota modern yang sesuai dengan visi daerah, partisipasi masyarakat juga diperlukan.
Bayangkan sebuah kota yang hanya mengandalkan transportasi atau perhubungan darat sebagai lalu-lintas utamanya. Hal ini dialami oleh Kota Blitar, yang minim sumberdaya alam, dalam artian tidak memiliki laut atau sungai besar sebagai arus transportasinya. Begitu pula ketika berbicara tentang transportasi udara.
Karena itulah, wajar saja jika total panjang jalan 261.328 kilo meter, disesaki dengan pelbagai moda transportasi darat, mulai dari angkutan umum hingga kendaraan pribadi, semisal sepeda motor; sepeda; dan mobil. Dan, jika hal ini dibiarkan, maka dapat dipastikan seiring dengan pertumbuhan penduduk, akan terjadi kepadatan lalu-lintas di Kota Blitar.
"Contoh nyata untuk itu, dapat dilihat dari rata-rata bus keluar-masuk di Terminal Patria Kota Blitar dalam satu bulan pada tahun 2009 silam yang mencapai 9046 bus kecil dan 4721 bus besar. Atau, rata-rata 302 bus kecil dan 157 bus besar per harinya. Belum lagi dari angkutan kota dan angkutan barang yang singgah di Terminal Kargo Kota Blitar," terang Kepala Dinas Perhubungan Daerah (Dishubda) Kota Blitar, Suharsono, SH.
Pada sisi lain, imbuh Kepala Dishubda Kota Blitar, jika mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Blitar, penumpang kereta api pada tahun 2009 sejumlah 556.124 orang atau rata-rata 46.344 penumpang per bulannya. Jika tidak dikelola dengan baik, akan menjadikan masalah pula di masa mendatang.
"Tetapi, hal ini menjadi kewajaran, jika mengingat Kota Blitar sedang tumbuh menjadi sebuah kota modern. Terlebih, Visi Kota Blitar di dalam RPJP juga mengarah pada menjadikan Kota Blitar sebagai kota pariwisata dan pusat pelayanan barang dan jasa, yang diharapkan tercapai pada tahun 2025 mendatang," jelasnya.
Untuk itulah, tukas Kepala Dishubda Kota Blitar, pelbagai langkah strategis tengah disiapkan Kota Blitar, guna mengantisipasi permasalahan-permasalahan yang timbul dari tingginya intensitas penggunaan sarana dan prasarana bidang perhubungan. Salah satunya adalah melalui penyiapan manajemen perparkiran.
"Sebab, secara langsung maupun tidak langsung, hal ini akan berdampak pula pada wajah Kota Blitar itu sendiri. Jika sistem perparkirannya tidak dimanajemeni dengan baik, akan berdampak pula pada sistem perhubungan; begitu pula sebaliknya. Dan, untuk itu, partisipasi masyarakat Kota Blitar amat dibutuhkan di sini," tegasnya.
Langkah antisipasi lain yang disiapkan Kota Blitar, kata Kepala Dishubda Kota Blitar, adalah dengan mengoptimalisasi dan mengefesiensikan arus transportasi yang melalui jaringan jalan strategis. Jaringan jalan yang ditujukan untuk mendukung pengembangan industri; pariwisata; perdagangan dan jasa; serta mobilitas umum.
Halaman: 1 · 2