May 2012
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
 << <   > >>
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31      

Pencarian

Konten

Cover Cakrawala

Valid XHTML 1.0 Transitional

« Pilkada 2005 (Edisi Khusus 2005)Membedah PJM I Dan Menyongsong PJM II (Edisi Kedua 2005) »

RPJMD II (Edisi Ketiga 2005)

08.06.05

Permalink 10:19:12, oleh cakrawala Email , 488 perkataan, 12 dilihat   Indonesia (ID)
Kategori: 2005

RPJMD II (Edisi Ketiga 2005)

Waktu, adalah alat pengukur perubahan. Waktu juga adalah sesuatu yang tidak konkret, abstrak, dan maya. Tidak dapat diraba dan tidak bisa ditunjuk. Tapi, seolah-olah bisa dirasakan dan nyata kehadirannya. Waktu pun memiliki durasi. Durasi waktu, dapat direkayasa secara modern dengan teknologi manajemen waktu.
Padahal, secara hakiki, pertanyaan sesungguhnya -bagi para penggandrung perubahan (progessor)- adalah bukan soal durasi waktu. Tetapi, seberapa jauh; seberapa banyak; dan seberapa pentingkah suatu durasi waktu itu mengandung muatan perubahan yang disebut progresi. Atau, dengan kata lain: substansi waktu adalah perubahan progresi. Dua paragraf di atas merupakan buah tangan M. Sobary, Kepala LKBN Antara. Dia coba menggambarkan bahwa perubahan progresi memang benar-benar dibutuhkan, mengingat bahwa waktu yang memang akan terus berjalan. Tidak akan berhenti. Sebelum Yang Mahakuasa menghentikannya. Begitulah hakikat waktu. Dia menjadi saksi bisu dari sebuah perubahan. Contoh termudah, apa yang telah dan sedang kita alami di kota tercinta ini: Kota Blitar. Sejumlah perubahan telah dan sedang berlangsung di sini. Hanya untuk satu muara: membangun Kota Blitar sesuai dengan amanat Rencana Strategis (Renstra) Kota Blitar 2000-2010. Tak lupa pula, untuk satu tujuan: mensejahterakan masyarakat Kota Blitar.
Benarkah hal-hal tersebut telah terwujud? Demikian pertanyaan yang telah mendominasi benak para progressor. Tak mudah memang untuk membuktikannya. Namun, jika berkaca pada gilang-gemilang pembangunan di PJM I, kita dapat berbangga hati. Perubahan dan pembangunan -baik fisik maupun nonfisik- berjalan beriringan. Tetapi, apakah itu semua telah membanggakan dan mensejahterakan masyarakat? Jawabannya: belum tentu. Apa pasal? Sebab, sejumlah ekses sosial dari pembangunan masih belum terpecahkan. Contoh gamblang adalah kemiskinan. Kemiskinan, memang merupakan satu permasalahan klasik yang menghinggapi semua kota di penjuru dunia. Tak ada formula ampuh yang dapat entaskannya hingga punah. Tetapi, setidaknya dengan sejumlah program yang digalakkan Pemkot Blitar, angka kemiskinan dapat dieliminasi. Terkurangi. Tak percaya? Lihat betapa bersusah payahnya Pemkot Blitar membuat database keluarga miskin. Semua upaya itu bermuara untuk menciptakan dan menjalankan sebuah program jaring pengaman sosial, yang tepat langsung pada sasarannya: si miskin. Pun, sarana dan prasarana bagi mereka juga diakomodasi. Alhasil, muncullah program renovasi rumah kumuh. Tapi, itu semua tidak cukup. Terlebih, jika sejumlah program itu dijalankan dengan tidak lepas dari unsur manipulasi; rekayasa; dan bentuk akal-akalan lainnya. Dalam menjalankan sejumlah program itu, memang diperlukan kebeningan jiwa dan hati. Terutama, bagi para pelaku dan pemangku kebijakan program tersebut. Sebab, sebenarnya, tanpa adanya sejumlah program tersebut, para marjinal itu telah berpegang pada satu hal: Hidup adalah soal keberanian. Menghadapi yang tanda tanya. Tanpa mengerti; tanpa bisa menawar. Terima dan hadapi.
Demikian tekad mereka, seperti isi dari petikan tulisan Soe Hok Gie, di dalam bukunya: Catatan Seorang Demonstran. Mereka, juga punya impian dan harapan. Sebab, bagi mereka, impian dan harapan adalah hal terindah di dalam hidup mereka. Jadi, jangan hancurkan impian dan harapan mereka. Sentuh dengan sebenar-benarnya.
Jangan sampai terjadi laesta maiestas (martabat yang rusak). Dan, jika hal itu tak terjadi, maka kaum progressor yang mendambakan progesi pun, hanya dapat menangis, melihat sebuah perubahan yang bagus di permukaan; namun di dalamnya dipenuhi dengan tangisan anak bangsa (dan zaman?).

Label: rpjmd ii